Ketika Patrick bermain golf bersama pastor O,Brien, ia melontarkan sebuah pertanyaan teologis yang sangat penting:
“Pastor, apakah ada lapangan golf di surga?”
“Wah, sampai sekarang saya tidak tahu. Nanti kalau ada kesempatan saya akan menanyakan soal itu kepada Tuhan dan jawabnya pasti akan saya beritahu kamu.”
Minggu berikutnya mereka berdua bermain golf kembali dan Patrick masih mengajukan pertanyaan yang sama. “Pastor apakah anda sudah menemukan
lapangan golf di surga?” “Sudah, sudah. Lapangan golf di sana bagus sekali. Saya dengar kamu diundang untuk bermain di sana minggu depan.”
Sebuah keluarga yang malang itu, akhirnya tahu bahwa salah satu anak gadisnya bekerja sebagai pelacur di kota Surabaya. Si Ibu pun menangis tersedu-sedu.
“Kenapa anda menangis?” tanya tetangga, “Yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang penting kita selalu berdo’a semoga ia segera sadar.”
Sambil mengusap air matanya, Si ibu menjawab dengan terbata-bata
“Saya menangis bukan karena itu, tetapi saya menangis terharu karena Dia adalah anak satu-satunya dari enam bersaudara yang akhirnya berhasil
mendapatkan pekerjaan.”
Seorang pria berjalan dengan 3 orang anaknya, masing-masing berumur 8, 5 dan 3 tahun. Mereka memasuki toko tempat dimana saya bekerja. Pria itu tampak berpikir keras ketika saya tanya,
“Ada yang dapat saya bantu?”
“Saya merasa perlu untuk membeli sesuatu, tetapi saya tidak dapat mengingat apa yang ingin saya beli,” jawab pria itu. Lalu pria itu memandang anak-anaknya dan bertanya, “Baiklah anak-anak, selain tempat tidur dan pintu kamar mandi, benda apa lagi yang kalian rusakkan dalam minggu ini?”
Seorang anak kecil berkata kepada ayahnya: “Pap, aku sedih karena Mami tidak tahu bagaimana mengurus anak.”
Papi : “Kenapa kamu bilang begitu?”
Anak : “Ya…karena mami selalu menyuruh saya tidur malam hari saat saya belum mengantuk dan membangunkan saya pagi hari saat saya masih mengantuk.”
Suatu hari seorang presiden sebuah negara berkembang pergi melihat pameran lukisan-lukisan. Karena saat itu beliau mengalami sakit mata dan penglihatannya kabur, maka ia mengajak satu ajudannya ut menuntunnya.
Presiden : “Wah, lukisan ini bagus. Gambar ikannya bener-bener hidup.”
Ajudan: “Shttt… Jangan keras-keras Pak. Itu gambar buaya.”
Kemudian mereka berpindah ke lukisan lain.
Presiden: “Gambar Gajah ini benar- benar gagah.”
Ajudan: “Shttt… Ojo keras-keras Pak. Itu gambar banteng.”
Presiden itu kemudian menahan diri memberi komentar sampai ia tiba pada satu pojok ruang pameran dia berseru:
“Wah, sing iki apik tenan. Lukisan Gorila nya begitu nyata anatominya.”
Ajudannya langsung tertegun dan berkata:
“Pssttt…. Jangan keras-keras Pak. Itu cermin !